Strategi Recruitmen Tenaga Kerja Indonesia Ke Luar Negeri Di Trenggalek … (25)


Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam recruitmen tenaga kerja Indonesia ke luar negeri dan menganalisis strategi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial dalam recruitmen tenaga kerja Indonesia ke luar negeri.


Penelitian dimulai pada tanggal 1 Agustus 2005 sampai dengan 30 September 2005 dengan lokasi penelitian di Dinas Tenaga Kerja, Trans-migrasi dan Sosial Kabupaten Trenggalek.
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian Deskriptif Kualitatif dengan menyajikan secara jelas pokok-pokok persoalan yang diteliti. Teknik pengumpulan data dengan jalan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah Metode Analisa Kualitatif dengan analisis SWOT.

Berdasarkan hasil analisis pada penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan :
1. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam recruitmen tenaga kerja Indonesia ke luar negeri ada 2 (dua), yaitu faktor internal (Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial), pelaksanaan program recruitmen, produksi, SDM., dan faktor eksternal (ekonomi, politik, sosial budaya dan PJTKI).
2. Strategi recruitmen tenaga kerja Indonesia ke luar negeri yang harus ditempuh adalah strategi Strength-Opportunities (SO) yaitu menggu-nakan kekuatan Dinas dan Perusahaan Jasa TKI untuk membuat peluang yang ada dengan jalan : a) penggunaan cara recruitmen yang baik, b) meningkatkan jumlah calon TKI ke luar negeri, c) meningkatkan mutu calon TKI ke luar negeri.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Efektivitas Kerja Guru Di Sma Negeri 1 Puri Kabupaten Mojokerto … (24)


Perubahan situasi dunia, organisasi menghadapi berbagai tantangan bisa mengadopsi budaya organisasi yang tidak hanya fleksibel tapi juga harus sensitif terhadap perebedaan budaya. Perkembangan jumlah, variasi, kedudukan dan peran organisasi dalam proses transformasi masyarakat menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar, apakah budaya yang menjadi landasan sosial tetap mampu berfungsi sebagai kerangka acuan dalam transformasi masyarakat dan membawa manfaat untuk perubahan yang diinginkan.


Semua organisasi mempunyai satu budaya yang bergantung pada kekuatannya. Budaya dapat mempunyai pengaruh yang bermakna pada sikap dan perilaku anggota-anggota organisasi (Robbins : 1996). Orang mulai belajar untuk bergantung dan menaruh harapan pada budaya. Budaya dianggap mampu memberikan stabilitas dan jaminan bagi mereka, karena mereka dapat memahami hal-hal yang sedang terjadi dalam masyarakat mereka dan mengetahui cara menanggapinya. Ada dua perubahan yang dapat dialami orang-orang. Pertama diantaranya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain dengan budaya yang lain pula. Kedua adalah perubahan dalam lingkungan mereka sekarang dan belajar menyesuaikan diri dengan kedua situasi itu untuk menghindari kemungkinan timbulnya konsekuensi negatif (Davis & Newstron : 1985).

Sekolah merupakan sebuah organisasi yang tidak bisa lepas dari budaya yang diciptakannya. Sekolah yang berprestasi merupakan dambaan setiap komponen masyarakat, dan menaruh perhatian besar terhadap kuantitas dan kualitas output sekolah yang dihasilkan. Dalam kondisi seperti ini jelas sulit diharapkan untuk mewujudkan sekolah berprestasi, banyak masalah yang diidentifikasi oleh Mukhtar dkk (2003) yang harus dihadapi oleh organisasi sekolah. Pertama adalah guru, dalam hal ini yang memiliki kecerdasan dan intelegensi, emosional spiritual, dan moral dalam mendidik, akan menghadapi kendala dalam melaksanakan tugasnya disebabkan karena kurangnya perhatian sekolah terhadap kesejahteraan guru. Kedua kurangnya fasilitas pengajaran yang mendukung guru melakukan inovasi pada aktivitas pembelajarannya. Ketiga, kurangnya kejelasan tugas-tugas yang diemban, atau mungkin terlalu banyaknya tugas yang diberikan kepadanya, sementara tenaga yang tersedia sangatlah terbatas. Keempat, adalah biaya. Kelima adalah kurang tersedianya sarana fasilitas pendukung seperti tenaga administrasi, laboratorium dan perpustakaan.

Berkaitan dengan terwujudnya sekolah berprestasi, hal itu tidak terlepas dari kinerja guru yang berada di organisasi sekolah tersebut. Kinerja guru pada dasarnya terfokus pada perilaku guru di dalam pekerjaannya. Sedangkan perihal efektivitas kerja guru dapat dilihat sejauh mana kinerja tersebut dapat memberikan pengaruh kepada anak didik. Secara spesifik tujuan kinerja juga mengharuskan para guru membuat keputusan khusus dimana tujuan pembelajaran dinyatakan dengan jelas dalam bnetuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada peserta didik.

Pada konteks guru sebagai anggota organisasi sekolah akan lebih mudah mencapai efektivitas kerja yang tinggi jika ia mempunyai perilaku dan komitmen. Menyadari bahwa dirinya tidak hanya sebagai anggota dari organisasi sekolah tetapi juga paham terhadap tujuan organsiasi sekolah tersebut. Dengan demikian seorang guru akan dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi yang pada akhirnya dapat berbuat dan bekerja sepenuhnya untuk keberhasilan organisasi sekolah. Apabila seorang individu dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi, dengan kata lain pengembangan budaya organisasi diharapkan dapat menimbulkan komitmen guru untuk tujuan dimaksud.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pengembangan Bank Syariah Di Kediri (Studi Kasus Di Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Syariah Kediri) … (23)


Bank Syariah tidak lagi terasa asing di pendengaran kita. Di setiap kota mulai beroperasional dan melayani setiap masyarakat yang ingin bertransaksi menggunakan prinsip syariah Islam. Awal keberadaannya mungkin kurang mendapatkan respon baik, namun seiring dengan keberhasilannya menunjukkan kinerja yang baik, seolah semua mata melirik dan mulai berpaling untuk memenuhi kebutuhan akan produk dan jasa perbankan yang selama ini kental dengan nuansa sistem bank konvensional.


Di luar konteks perdebatan akan keberadaan sistem bunga yang masih belum juga selesai, secara bisnis bank syariah menunjukkan hasil yang tidak mengecewakan. Kinerja yang telah dicapai tentu tidak akan berhenti begitu saja karena masih ada peluang yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain kekuatan yang dimiliki karena sebagai pendatang yang relatif masih baru tentu sisi kelemahannya masih ada, belum lagi ancaman yang jika tidak diwaspadai akan berpengaruh negatif bagi bank syariah, hal yang tentu tidak dikehendaki.

BRI Syariah Kediri sebagai pelaku bisnis bank syariah menghadapi kasus serupa dalam hal kelemahan dan ancaman. Teknologi, tenaga pemasar, kurangnya sosialisasi dan promosi mungkin beberapa kelemahan yang harus segera diatasi. Untuk itu perlu mencari, memilih dan melaksanakan suatu strategi yang dirancang dan disesuaikan dengan kondisi perusahaan untuk memaksimalkan kekuatan dan memanfaatkan peluang untuk mengembangkan bisnis bank syariah yang telah ada.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Pada Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Gresik … (22)


Penelitian ini dilakukan di Kantor Pemberdayaan masyarakat Desa Kabupaten Gresik mulai bulan Mei sampai dengan Agustus 2005 yang bertujuan untuk ; (1) menganalisis pengaruh faktor-faktor motivasi terhadap terhadap prestasi kerja pegawai.(2) menganalisis salah satu faktor-faktor motivasi yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap prestasi kerja pegawai di kantor Pemberdayaan masyarakat Desa Kabupaten Gresik.


Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, sedangkan teknik pengambilan sample adalah total sampling terhadap 23 responden). Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer yang berasal dari responden dianalisis dengan regresi liniear berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) faktor-faktor motivasi yang terdiri dari Kebutuhan fisiologis, Kebutuhan keselamatan Kerja, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri berpengaruh terhadap prestasi kerja pegawai sebesar 56.6%, sedangkan sisanya sebesar 43.4% disebabkan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model penelitian ini; 2) faktor motivasi kebutuhan keselamatan kerja mempunyai pengaruh paling dominan yaitu sebesar 0,352 terhadap prestasi kerja pegawai di Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Gresik, hal ini dapat diartikan jika variabel Kebutuhan keselamatan kerja berubah satu satuan, maka variabel prestasi kerja akan berubah.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja Pada Kantor Kecamatan Balongpanggang Kebupaten Gresik … (21)


Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pemikiran bahwa Struktur Inisiasi (Perilaku Tugas) dan Struktur Konsiderasi (Perilaku Hubungan) yang merupakan variabel-variabel dari gaya kepemimpinan yang sangat penting artinya bagi kepuasan kerja karyawan. Penelitian yang dilakukan pada Kantor Kecamatan Balongpanggang Kabupaten Gresik Tahun 2005 ini bertujuan mengetahui seberapa besar pengaruh perilaku tugas dan perilaku hubungan terhadap kepuasan kerja karyawan.


Untuk menguji hipotesa penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Ganda, Uji-F, Koefisien Determinasi Berganda (R2), Uji-T, Keseluruhan Analisis menggunakan Program Komputer SPSS 10.01
Gaya kepemimpinan yang berkaitan dengan pertama Perilaku Tugas dengan indikator antara lain : Penetapan tujuan yang harus dicapai, prosedur kerja yang harus dilakukan, pembagian tugas dan jadwal tugas, teknik dalam melakukan pekerjaan, batas waktu penyelesaian tugas, laporan hasil pekerjaan, kedua Perilaku Hubungan dengan indikator antara lain : Memberi dukungan moril, memberi motivasi, memberi kesempatan mengutarakan pendapat, menciptakan suasana komunikasi, memperhatikan keluhan yang dirasakan dalam pelaksanaan pekerjaan, melakukan koreksi terhadap hasil kerja, dan yang ketiga variabel kepuasan kerja dengan indikator antara lain : Puas dengan pekerjaannya, puas dengan teman kerja, puas terhadap upah yang diterima (gaji), puas terhadap keamanan lingkungan kerja, puas dengan jaminan keselamatan kerja, puas terhadap kebijakan promosi, puas terhadap pengawasan atasan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signigikan antara perilaku tugas dan perilaku hubungan dengan kepuasan kerja karyawan sebesar 70.2 % terhadap perubahan variabel Y, sedangkan sisanya 29.8 % variabel Y dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Temuan dalam penelitian ini dapat pula dikemukakan diantara variabel yang diteliti, yaitu variabel perilaku tugas 23.9 % menyebabkan peningkatan pada variabel kepuasan kerja karyawan sedangkan variabel hubungan 47.2 % menyebabkan peningkatan pada variabel kepuasan kerja karyawan.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Cara Seo Blogger